Kehadiran Kemenkop dalam The 58th APEC SME Working Group, Pucallpa, 11-12 September 2024

 


The 58th APEC SME Working Group, Pucallpa, 11-12 September 2024

Pertemuan tahunan APEC SME Working Group (WG) ke 58 kembali dilaksanakan pada 11-12 September 2024 di Pucallpa, Peru dan dihadiri oleh 19 ekonomi dari 21 anggota APEC. Sebagai tuan rumah pertemuan APEC tahun 2024, Peru mengangkat tema utama yakni Empower, Include and Grow dengan fokus pada tranformasi usaha dari informal ke formal, kolaborasi UMKM dan usaha besar serta peta jalan pengembangan UKM yang berfokus pada perteumbuhan.


Dalam pertemuan SME-WG tersebut, Henra Saragih, Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama menyampaikan dukungannya terhadap tema prioritas yang diangkat oleh peru dalam keketuannya tahun 2024, dimana prioritas tersebut sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia yang telah dijewantahkan dalam berbagai program pengembangan UKM yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM. 

Selama pertemuan berlangsung, dalam sesi policy sharing & best practice, ada 3 program yang telah di jalankan oleh Kemenkop UKM. Pertama, disampaikan bahwa saat ini, Kemenkop UKM telah mendorong pertumbuhan wirausaha dengan membangun suatu ekosistem yang sangat mendukung bagi wirausaha, yang diantaranya mencakup Entrepreneur Hub, Entrepreneur Development Program, Entrepreneur Financial Fiesta, dan Inkubasi Bisnis. Ekosistem wirausaha ini mempermudah wirausaha mengakses seluruh sumber daya, informasi, dan peluang bisnis yang didukung oleh intervensi dari hulu ke hilir oleh pemerintah dan para stakeholder sebagaimana tertuang dalam Perpres Nomor 2 tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional Tahun 2021-2024. 


Kedua, Henra Juga menyampaikan pengalaman Indonesia dalam terkait “MSMEs’ transition from informal to formal economy” dengan  menyampaikan bahwa Indonesia telah melakukan berbagai updaya dalam usaha tranformasi usaha dari informal ke formal melalui program transfumi dengan menitik beratkan pada program MicroEx. (Micro Excellence), yang telah terbukti sangat berkontribusi dalam transformasi usaha mikro dari informal ke formal. 

Melalui program MikroEx kami, berdasarkan pengalaman kami, perlu dilakukan mentoring/pendampaingan secara langsung kepada usaha mikro dalam Upaya membantu transformasi usaha dari informal ke formal. Pemerintah memfasilitasi upaya tersebut dengan melakukan rekruitmen mentor-mentor yang dilatih melalui ToT guna melakukan pendampingan secara langsung kepada usaha mikro” jelas Henra. 

Ketiga, juga disampaikan bahwa pengembangan UKM tidak dapat terlepas dari terbentuknya ekosistem usaha yang baik, salah satunya dalam hal ketersediaan akses dan skema pembiayaan alternatif. Isu financing gap jadi salah satu isu yang dihadapi oleh hampir seluruh ekonomi APEC.  Dalam Hal ini, Kemenkop UKM telah melalukan berbagai upaya untuk mengatasi financing gap, salah satunya melalui prorgam SME EPIC 

"Program SME merupakan inisiatif pendampingan yang bertujuan menjembatani UKM yang membutuhkan pendanaan dengan institusi penyedia layanan keuangan guna pengembangan usaha mereka. Isu financing gap saat ini menjadi tantangan yang dihadapi hampir di semua ekonomi APEC, termasuk Indonesia. Melalui penyampaian praktik terbaik ini, Kementerian Koperasi dan UKM menegaskan komitmen Indonesia dalam memastikan ketersediaan akses pembiayaan yang lebih baik bagi UKM.

Komentar

Postingan Populer